Matthew Goode

Kalau kamu boleh memilih, kamu ingin lelaki seperti siapa?

Dulu sekali, ketika usiaku tak lebih dari 21 tahun, ada yang menanyakan pertanyaan itu. Dan aku menjawab tanpa berpikir keras.

“Matthew Goode!”

*

“Chasing Liberty? Gak pernah nonton film itu. Bagus?”

Aku tergelak. “Bagus dong! Untuk penggemar film drama roman kayak aku ini. But, it will be so cheesy kalo kamu yang nonton.”

Sudah jam makan siang, dan Wisnu, begitu dia tadi memperkenalkan diri, masih terjebak bersamaku di coffee shop ini. Entah apa yang membuatku mau berlama-lama mengobrol dengan orang yang baru saja kukenal selama beberapa jam.
Dia bilang dia boleh masuk kantor di jam berapapun yang dia inginkan. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya. Selain jam kantor yang fleksibel, aku juga tahu kalau dia seorang investment consultant untuk sebuah investment company di Jakarta. Aku tahu kalau dia sebenarnya tak begitu suka kopi. Aku tahu dia suka memperhatikanku makan pancakes, katanya aku penuh passion. Passion untuk melahap habis pancake.

Aku tak tergerak untuk mengakhiri pembicaraan kami, tak sedikitpun.

Aku suka melihat dia berusaha membuatku tertawa. Aku juga suka ketika dia memujiku karena katanya aku tak seperti perempuan kebanyakan yang selalu dalam usaha diet-dietan.

“Apa yang bikin kamu suka nonton Chasing Liberty?”

Dua porsi pancakes dengan butter dan maple syrup sudah kutandaskan dan dia menelantarkan Hot Caramel Machiato-nya yang aku tahu itu sudah tak lagi hot. Selama dua jam itu pula, dia mencoba mengenalku di coffee shop, tempatku menghabiskan waktu mencari inspirasi untuk sketsa-sketsa rancanganku.

Kami berdua sama-sama penyuka film, penggemar makanan manis dan menggandrungi lagu-lagu lama nan klasik.

“Matthew Goode. Mandy Moore. Masih muda tapi berbakat. Sayang aja, gak banyak orang tahu tentang Matthew Goode. Cakep. Well, Mandy Moore? Aktingnya lumayan kok di film itu.”

Dia tersenyum. Sebanyak itu pula, ada gelembung bahagia di diriku.

Dia meraba dagunya yang mulai dipenuhi jambang 5 o’clock shadow, yang membuatnya terlihat seksi. Seseksi Matthew Goode.

“Nah, kenapa suka Matthew Goode? Jangan bilang karena dia cakep.”

Aku menjawab sambil terkekeh. “Karena Matthew Goode ini tipe PHD. Perfect Husband and Daddy. Biarpun kerja di industri film, siapa yang sangka kalau dia family man? He’s got the whole package that a woman needs for.”

“Aku mau beli dvdnya. Ehm, atau kamu punya dvdnya, Leah?”

“Punya dong. Nanti aku pinjami ya, Wisnu.”

“Great! Means we can have another date? Second date? Sembari kamu ngasi pinjeman dvd-nya Chasing Liberty.”

Dia mengerling. Aku kembali tergelak. Entah sudah berapa kali, tak terhitung, aku tergelak. Tertawa berderai.

“So, you consider this as a date?” Tanyaku penuh rasa selidik.

“Iya. This is a date. Kencan dadakan.”

“Ehm, I don’t think so, Wisnu. Ini bukan kencan.”

“No problem. Can I ask you out? A date over coffee? Tea? Pancakes and me?”

Aku diam. Memperhatikan lipatan lengan kemeja putihnya yang rapi. Lesung pipinya membuatku gugup.

“A date with Daryl Hall & John Oates? Dan kamu tetap bisa mendapatkan inspirasi buat sketsa-sketsamu itu. Gimana?”

Bukan kopi, teh, pancakes ataupun lagu-lagu lama yang dinyanyikan oleh Daryl Hall & John Oates yang membuatku ingin menjawab ajakan kencan Wisnu.

Tapi,…

Blueberry Muffin #FFBersambung

Namanya Leah Isla Wiryawan. Dan dia seorang desainer.

Aku, dan mungkin seluruh penduduk Jakarta, mengenal dia dari puluhan billboard di ibukota. Bukan dia secara fisik, tapi rancangan baju yang seringkali dipakai oleh para selebriti dan para petinggi negara.

Saat itu hujan sedang mengguyur Jakarta dengan derasnya, dan kuputuskan untuk menunda waktu pulangku. Masuk ke coffee shop sebelah gedung kantorku demi menghindari menyetir mobil di tengah hujan badai. Selama 3 tahun aku bekerja, tak pernah sedikitpun ada keinginan untuk mampir ke coffee shop ini. Tak pernah.

Gemerincing pintu yang kubuka dengan bahuku dan riuh suasana coffee shop menyambutku. Hangat.

“Hot Caramel Machiato. Extra caramel. Muffin, blueberry ya.”

Kuedarkan pandangan ke seluruh coffee shop dan pandanganku berhenti padanya. Duduk di pojok coffee shop dengan buku sketsa dan pensil yang diselipkan di telinga. Rambut panjang diikat ekor kuda, kemeja putih yang terlalu besar dan celana ripped jeans, dia tampak bersahaja. Biasa dan apa adanya.

“Hot Caramel Machiato-nya, kak. With extra caramel. Blueberry muffin sedang dihangatkan.”

Setelah kuucapkan terima kasih, kuputuskan untuk berlama-lama berdiri berbincang dengan si barista manis bernama Sekar di coffee shop ini. Dari Sekar pula, aku jadi tahu kebiasaan perempuan berambut ekor kuda yang duduk di pojokan coffee shop ini.

Empat jam lamanya aku bertahan di coffee shop hingga akhirnya kuputuskan untuk segera pulang karena hujan telah reda. Dan dia masih tetap terlihat nyaman di sofa. Tidak beranjak, tidak terlihat lusuh, hanya terlihat bahagia. Ketika dia berdiri sembari membereskan barang-barangnya, kupersiapkan juga mentalku untuk menegurnya.

Ketika akhirnya aku berpapasan dengannya, dia sudah melakukan suatu hal yang membuatku mau mati saja. Tersenyum. Tersenyum padaku.

“Kamu barusan makan blueberry muffin ya?” Tegurnya.

Aku hanya tersenyum, mencoba terlihat cool. Jaim. Jaga Image.

“Remah-remah muffin-nya nempel semua di bibir kamu.”

Lalu, disodorkannya selembar tisu padaku sambil tetap tersenyum. Dan dia berlalu tanpa sempat aku mengucapkan terima kasih. Tanpa sempat bertanya siapa namanya, tinggal dimana, nomor telepon yang bisa kuhubungi, apakah dia perawan, janda atau sedang bertunangan dengan orang lain. Nihil.

Aku malu. Mau mati saja. Bukan begini caranya aku ingin memperkenalkan diri pada seorang perempuan yang mungkin saja bisa jadi jodohku kelak.

Pancake #FFBersambung

Samar-samar terdengar Adhitia Sofyan bernyanyi ‘Word & Stories’ di coffee shop di seberang sebuah mall tersohor di ibukota. Ini baru hari ke-2 Jakarta Fashion Week, dan mall itu sudah penuh dengan penggila fashion. Aku, memutuskan untuk menikmati sarapanku di coffee shop ini dan tak ingin terganggu dengan aktivitas lain.

“Pancakes, flip over, pake gula halus, maple syrup and butter. Espresso ya?” Aku memberikan selembar seratus ribuan pada si kasir, Brandon-si karyawan blasteran yang magang di coffee shop ini sejak sebulan lalu, yang menerima uangku dengan senyum paling menawan.

“Diantar ke meja yah, missy, semua pesananmu.”

“Okay.”

Duduk di sofá untuk 2 orang di pojok coffee shop membuatku bisa mengamati semua hal yang terjadi di coffee shop ini. Mulai dari memperhatikan gaya bicara seseorang, model pakaian terbaru hingga menebak-nebak siapa orang yang mereka tunggu di coffee shop ini.

Ketika aku memutuskan untuk melanjutkan gambar-gambar desain koleksi terbaru labelku, Brandon datang dengan pesananku.

“Your favorite pancakes!”

“Thanks, Brandon.”

“I’ve never seen you hanging out with boyfriend. Where is he?”

Aku tergelak mendengar pertanyaan Brandon. “Nice line, but no, I don’t have boyfriend. Thanks for asking.”

Brandon mengedipkan sebelah matanya dan berlalu menuju meja kasir. Aku masih tersenyum sendiri.

‘Boyfriend? Pacar? Aku mulai lupa kapan terakhir kali aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Punya pacar. Mungkin karena aku terlalu sibuk bekerja dan enggan berlarut-larut berada dalam sebuah hubungan yang sulit.

Menurutku, sebuah hubungan percintaan itu seharusnya simple. Sederhana. Seperti pancakes original dengan taburan gula halus atau sirup maple dan mentega. Simpel. Tapi, enak dan membuat kamu bisa tersenyum manis.
Mengingat hubungan percintaan terakhirku kandas dengan ketidakbahagiaan dua tahun lalu, aku merasa ingin mengambil waktu sejenak dengan bekerja keras.

Beberapa sketsa terselesaikan saat kudengar gemerincing pintu depan coffee shop terbuka dan masuklah dia. Seorang lelaki dengan celana pantalón warna abu-abu gelap, kemeja putih yang digulung hingga sesiku dan sepatu fantofel tipikal bankers dan lawyers masa kini.

Aku tahu dia memesan Hot Caramel Machiato dan muffin blueberry. Dan aku tahu dia selalu duduk di dekat pintu masuk. Aku juga tahu kalau dia selalu datang jam 8 pagi dan meninggalkan coffee shop ini jam 10 pagi tepat. Dan aku tahu bahwa namanya adalah Wisnu. Sudah 3 bulan, aku memperhatikan Wisnu di coffee shop ini, dan selama 3 bulan itu, aku tak pernah melewatkan hari senin hingga jumat duduk di sini memperhatikan dia.

Tidak, aku tak punya keberanian untuk mengajak dia berkenalan. Buatku, lelaki seharusnya mengajak berkenalan lebih dulu. Dan seperti biasanya, hari ini akan kuhabiskan dengan merancang skenario bagaimana aku bisa mengajak berkenalan Wisnu.

Oh, it is so not gonna happen.

Potongan pancake terakhir kumasukkan mulutku dengan rasa puas. Dan aku masih menjilati jariku yang terkena sirup maple waktu dia menyapaku.

“Hi, sudah sejak 3 bulan, aku selalu memperhatikan kamu. Mengumpulkan keberanian. Dan gara-gara kamu, aku jadi suka sarapan di sini.”

Aku masih menganga, dengan posisi jariku di tepi bibirku ketika dia, Wisnu, berdiri di depan mejaku, menyodorkan tangan, mengajakku berkenalan.

Oh, well, akhirnya, Wisnu sadar juga kalau aku menunggu waktu ini tiba.

Hari ke-13 #13HariNgeblogFF : CUT!

Sudah hari terakhir!

Masmin dan Yumin akan merindukan sangat tulisan kalian 😥

Judul hari terakhir adalah “CUT!”

Submit Link :

Salam kangen!

Unge dan Momo

Hari ke-12 #13HariNgeblogFF : Tunggu di situ, aku sedang menujumu!

Judul hari ke-12 adalah “Tunggu di situ, aku sedang menujumu!”

Submit link!

Hari ke-11 #13HariNgeblogFF : Jangan kemana-mana, di hatiku saja.

Hari ke sebelassss!

Judul hari ini adalah : Jangan kemana-mana, di hatiku saja.

Submit link :

Hari ke-10 #13HariNgeblogFF :

Hari ke 10!!

Ya ampun cepet banget gak berasa aja gitu!

Yuk submit kemari: